Wasiat Ayah Pengusaha untuk Kedua Putranya

"Wasiat Ayah Pengusaha untuk Kedua Putranya"

Alkisah. Seorang ayah pengusaha sebelum menghembuskan nafas terakhir memberi wasiat bisnis kepada kedua putranya.

“Anakku, ayah punya dua wasiat penting yang harus kamu pegang untuk keberhasilan bisnismu. Pertama: jangan pernah menagih piutang kepada siapapun. Kedua: jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari langsung.”

Sepeninggal sang ayah dua bersaudara itu menjalani kehidupan bisnis mereka dengan terus memegang wasiat ayah mereka.

Tahun demi tahun berlalu hingga sang ibu menengok anak sulungnya. Kondisi bisnisnya sangat memprihatinkan. Ibu pun bertanya, “Wahai anakku, apa yang terjadi dengan bisnismu?”

Si sulung menjawab, “Saya memegang wasiat ayah Bu. Saya dilarang menagih piutang kepada siapapun hingga banyak piutang tidak dibayar lalu perlahan habislah modal saya."

"Oh, begitukah?" kaget ibu.

"Iya, Bu. Selanjutnya saya juga memegang wasiat kedua ayah, saya dilarang terkena sinar matahari langsung. Saya hanya punya sepeda motor, maka saya pergi dan pulang kantor selalu naik taksi. Operasional pun membengkak.”

"Laa haula wa laa quwwata illaa billah! Teruslah berbisnis nak. Alloh pasti berikan jalan keluar," nasihat ibu.

Sang ibu beralih mengunjungi si bungsu. Keadaan bisnisnya berbeda jauh dari si sulung. Si bungsu cakap menjalankan bisnisnya.
Sang ibu pun menelisik, “Wahai anakku, bagaimana bisnismu bisa berkembang pesat seperti ini? Asetmu berlipat-lipat. Hidupmu sedemikian beruntung. Apa yang kau lakukan sepeninggal ayahmu?”

Si bungsu menjawab, “Ini karena saya selalu memegang wasiat ayah Bu."

"Oh ya? Adakah berbeda wasiat ayah padamu dengan wasiat ayah pada kakakmu? Kakakmu bisnisnya semakin lesu karena memegang wasiat ayah."

"Apakah begitu Bu? Ayah mewasiatkan hal yang sama pada kami, bagaimana kami akhirnya memperoleh perkembangan bisnis yang berbeda?"

"Tak tahu lah Nak, rizki memang berbeda-beda meski ikhtiarnya sama. Alloh tentu punya rahasia di balik itu semua."

"Betul Bu, Alloh Maha Adil, Maha Tahu, Maha Penuh Hikmah."

Sang ibu melanjutkan, "Ayahmu berwasiat agar Engkau tak menagih piutang kepada siapapun? Betul itu?"

"Iya Bu."

"Lalu apa yang Kau lakukan setelah mendengar wasiat itu?" tanya ibu.

"Karena wasiat itulah akhirnya saya tidak pernah memberikan utang kepada siapapun sehingga transaksi perputaran uang selalu tunai dan modal saya tetap utuh, bahkan berkembang,” bungsu menjelaskan.

“Oh, begitu? Lalu Kau juga dipesani agar tak boleh terkena sinar matahari langsung?"

"Iya Bu. Karena itulah dengan motor yang saya punya saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Para pelanggan tahu toko saya selalu buka lebih pagi dan tutup lebih sore. Mereka menyukainya dan mereka menjadi pelanggan-pelanggan setia."

"Laa haula wa laa quwwata illaa billah. Semoga Alloh berkahi dan jadikan kebaikan dunia dan akhiratmu. Semua ini dari Alloh," nasihat ibu.

Pesan yang sama dimaknai berbeda antara dua orang. Tulisan ini pun tentu memiliki hikmah yang berbeda bagi pembaca semua.

Teruslah berkarya dan tetap semangat!